Refleksi Ke 66: Menakar Harga PMII -->

Advertisement

Refleksi Ke 66: Menakar Harga PMII

Latif Fianto
Sunday, April 19, 2026


Tulisan ini tidak dibuat untuk membela diri atau mencari alibi kenapa orang-orang seperti saya, terutama setelah sibuk dengan keluarga dan karir, jarang sekali nimbrung dalam kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan PMII. Entah itu Halal Bihalal tingkat cabang hingga wilayah, atau pertemuan-pertemuan sejenis yang mengajak kita bernostalgia dengan berbagai momen yang kita anggap prestasi di masa lalu. Tetapi bukan berarti ketidakhadiran secara faktual adalah bentuk pengkhianatan atau ketidakcintaan pada organisasi atau kenangan di dalamnya, karena yang terpenting bukan hubungan atau dengan siapa kita berhubungan, melainkan kualitas dari hubungan itu pada akhirnya. 

Secara pribadi ada perasaan bangga, terharu atau apalah namanya melihat mahasiswa masih aktif merawat organisasi ini, melakukan rapat, nongkrong, mengadakan pelatihan dan sebagainya sebagai wujud ketaatan pada konstitusi. Ada kebanggaan ketika melihat mereka masih berjuang berdarah-darah menegakkan organisasi ini di atas bumi. Ya, masih di bumi, bukan di Mars atau bulan, yang kalau begitu berarti PMII telah menjadi fosil-fosil kenangan di dalam kening, benar-benar menjadi fakta sejarah yang sudah dikebumikan atau dimuseumkan. Di saat itu terjadi, kita mungkin akan menjelma para pecinta yang patah hati ditinggalkan orang yang dicintai, yang meraung-raung penuh penyesalan dan berjanji akan memperlakukannya 360 derajat jauh lebih baik seandainya mereka mau kembali lagi. Tapi sayang, mereka tidak akan pernah kembali karena sejauh-jauhnya jarak adalah masa lalu. 

Tentu saja secara sadar kita tidak menginginkan hal itu menjadi kenyataan. Hanya saja, sampai detik ini, kita mungkin secara tidak sengaja telah menggali kuburan untuk organisasi yang kita cintai ini. Persoalan ini mari kita mulai dengan pertanyaan, PMII yang benar-benar kita cintai ini berada di posisi mana di antara miliaran bintang organisasi lain? Jangankan dengan miliaran bintang di luar galaksi ini, di tengah komunitas lokal saja setingkat program studi atau fakultas, di mana posisinya? Pernahkah kita bertanya seperti itu atau jangan-jangan mata dan nalar kita sudah buta oleh cinta? 

Ada banyak jenis cinta di alam raya ini, tapi yang paling mematikan adalah cinta pada segala yang bernama simbol dan ekstasi. Nyaris hampir setiap tahun digelar penerimaan anggota baru, pelatihan dasar hingga tingkat tinggi, perayaan hari lahir, buka bersama atau halal bihalal dengan format sunmori paling mbois. Tapi apa setelah itu? Adakah yang berubah atau minimal sedikit peningkatan pada aspek kreativitas atau kerja-kerja intelektual plus keorganisasian bagi adik-adik mahasiswa atau siapa pun itu yang mengatasnamakan pengurus, kader dan anggota PMII? Atau mungkin ini ekspektasi yang terlampau jauh dari seseorang yang bahkan tidak melihat di mana posisi organisasi ini dalam pembicaraan intelektual mahasiswa setingkat organisasi himpunan internal Perguruan Tinggi? 

Jika hari ini negara merumuskan pendidikan tinggi untuk berdampak secara nyata kepada masyarakat, lalu bagaimana dengan PMII? Sudahkah ada refleksi internal untuk mengubah arah organisasi ini semakin terasa nyata manfaat dan dampaknya sehingga setelah saatnya benar-benar terjun ke masyarakat para kadernya tidak menjadi pecundang kenyataan? Saya ingin mengakui bahwa secara pribadi saya belum merasakan arah angin itu, bahkan sebaliknya, saya merasa organisasi ini semacam hidup segan mati tak mau. Ada, ya. Mati, juga tidak. 

Di level organisasi, kita juga tidak punya kiblat, semacam serampangan saja. Kita seolah-olah tidak tahu apa yang akan dicapai organisasi ini selama satu periode kepemimpinan setelah sebelumnya begitu berapi-api saat mengucap sumpah setia di momen pelantikan, atau sebelumnya lagi, di momen pencalonan. Kita seolah ingin bekerja setelah ditetapkan dalam lembar SK, tapi setelah SK tercetak, entah apa yang membuat kita lupa bahwa nama-nama kita adalah kader yang selalu bilang “tangan terkepal dan maju ke muka”. Entah apa artinya dan belum ada penelitian soal itu. Sejauh ini kita terperosok ke dalam ekstasi bernama PMII, seolah dengan hanya menjadi bagian dari nama itu kita telah menjadi orang-orang penting yang dibutuhkan rakyat, seolah menjadi garda terdepan dalam mengawal instabilitas, kertertindasan, dan lebih-lebih kebodohan yang sudah terlanjur mengerak.

Keberadaan IKA-PMII di tingkat nasional, wilayah, cabang hingga komisariat juga, sekali lagi, ada dan tiadanya sama saja. Keberadaannya mungkin begitu terlihat di momen-momen Syawal, yaitu pada acara Halal Bihalal, pengangkatan ulang, Kongres atau sejenisnya. Di tingkat komisariat atau cabang, keberadaan lembaga alumni itu terasa pada perannya sebagai konsultan bagi mahasiswa yang masih menjaga marwah organisasi di tingkat grassroot. Sebagian yang tidak terima mungkin melihat pemikiran ini terlalu sempit bin dangkal. Tapi itu kenyataan. 

Di tingkat komisariat misalnya, selain bertanya soal konsep kaderisasi dan memberikan ceramah soal cara berorganisasi yang benar dan halal serta memberikan solusi atas persoalan-persoalan dapur dan percintaan, peran dan kerja pengurus IKA-PMII nyaris tidak terlihat. Bicara kegiatan rutin misalnya, terlalu receh untuk diagungkan di sini. Bicara eksekusi rencana kerja misalnya, terlalu omong kosong. Atau hal ini terjadi karena berkaca pada kinerja IKA-PMII nasional-wilayah-cabang yang tidak serius sama sekali mengurus organisasi. Cara kerja seperti ini telah menjadi patron bagi IKA-PMII di tingkat komisariat, bahkan bahayanya oleh kader di tingkat bawah hingga menengah, atau juga mungkin di tingkat atas. 

IKA-PMII di tingkat cabang bermimpi membangun gedung permanen. Kita semua memimpikan setiap lembaga di tingkat komisariat atau bahkan rayon punya gedung sekretariat yang sama: permanen, bos! Untuk apa? Untuk bermalas-malasan, main domino atau sekadar bernostalgia mengenang Mahbub Djunaidi dan perjuangan heroik para pendahulu? Atau mungkin kita sengaja hendak melembagakan kemalasan dan ketidakbergunaan? Mimpi kita terlalu jauh untuk ukuran organisasi, atau mungkin orang-orangnya, yang mohon maaf, sampai sejauh ini masih bingung mendefinisikan diri alih-alih melakukan kerja-kerja nyata yang berdampak tadi. Kita sudah terperosok ke dalam ekstasi hutan simbol daripada kerja-kerja nyata organisasi. Sekali lagi, nyata dan berdampak. Kalaupun berdampak terlalu berat, minimal nyata, konsisten dan bernas sehingga kita bisa mendefinisikan diri dengan lebih konkret. Ketika pendefinisian itu sudah muncul, barulah mungkin pertanyaan “di mana posisi organisasi ini” akan terjawab. 

Upaya menakar harga PMII bukan sebuah upaya dekonstruksi, melainkan usaha kritis-reflektif membongkar aksioma dan kebenaran umum yang sudah terlalu lama kita kultuskan. Mari berupaya selagi bisa, jangan sekali-kali menitikkan air mata saat sudah tiada!