Tulisan ini tidak dibuat untuk membela diri atau
mencari alibi kenapa orang-orang seperti saya, terutama setelah sibuk dengan
keluarga dan karir, jarang sekali nimbrung dalam kegiatan-kegiatan yang
mengatasnamakan PMII. Entah itu Halal Bihalal tingkat cabang hingga wilayah,
atau pertemuan-pertemuan sejenis yang mengajak kita bernostalgia dengan
berbagai momen yang kita anggap prestasi di masa lalu. Tetapi bukan berarti
ketidakhadiran secara faktual adalah bentuk pengkhianatan atau ketidakcintaan
pada organisasi atau kenangan di dalamnya, karena yang terpenting bukan
hubungan atau dengan siapa kita berhubungan, melainkan kualitas dari hubungan
itu pada akhirnya.
Secara pribadi ada perasaan bangga, terharu atau apalah
namanya melihat mahasiswa masih aktif merawat organisasi ini, melakukan rapat,
nongkrong, mengadakan pelatihan dan sebagainya sebagai wujud ketaatan pada
konstitusi. Ada kebanggaan ketika melihat mereka masih berjuang berdarah-darah menegakkan
organisasi ini di atas bumi. Ya, masih di bumi, bukan di Mars atau bulan, yang
kalau begitu berarti PMII telah menjadi fosil-fosil kenangan di dalam kening,
benar-benar menjadi fakta sejarah yang sudah dikebumikan atau dimuseumkan. Di
saat itu terjadi, kita mungkin akan menjelma para pecinta yang patah hati
ditinggalkan orang yang dicintai, yang meraung-raung penuh penyesalan dan
berjanji akan memperlakukannya 360 derajat jauh lebih baik seandainya mereka
mau kembali lagi. Tapi sayang, mereka tidak akan pernah kembali karena
sejauh-jauhnya jarak adalah masa lalu.
Tentu saja secara sadar kita tidak menginginkan hal itu menjadi kenyataan. Hanya saja, sampai detik ini, kita mungkin secara tidak sengaja telah menggali kuburan untuk organisasi yang kita cintai ini. Persoalan ini mari kita mulai dengan pertanyaan, PMII yang benar-benar kita cintai ini berada di posisi mana di antara miliaran bintang organisasi lain? Jangankan dengan miliaran bintang di luar galaksi ini, di tengah komunitas lokal saja setingkat program studi atau fakultas, di mana posisinya? Pernahkah kita bertanya seperti itu atau jangan-jangan mata dan nalar kita sudah buta oleh cinta?
Ada banyak jenis cinta di alam raya ini, tapi yang paling mematikan
adalah cinta pada segala yang bernama simbol dan ekstasi. Nyaris hampir setiap
tahun digelar penerimaan anggota baru, pelatihan dasar hingga tingkat tinggi,
perayaan hari lahir, buka bersama atau halal bihalal dengan format sunmori
paling mbois. Tapi apa setelah itu? Adakah yang berubah atau minimal sedikit
peningkatan pada aspek kreativitas atau kerja-kerja intelektual plus
keorganisasian bagi adik-adik mahasiswa atau siapa pun itu yang mengatasnamakan
pengurus, kader dan anggota PMII? Atau mungkin ini ekspektasi yang terlampau
jauh dari seseorang yang bahkan tidak melihat di mana posisi organisasi ini dalam
pembicaraan intelektual mahasiswa setingkat organisasi himpunan internal
Perguruan Tinggi?
Jika hari ini negara merumuskan pendidikan tinggi untuk berdampak secara nyata kepada masyarakat, lalu bagaimana dengan PMII? Sudahkah ada refleksi internal untuk mengubah arah organisasi ini semakin terasa nyata manfaat dan dampaknya sehingga setelah saatnya benar-benar terjun ke masyarakat para kadernya tidak menjadi pecundang kenyataan? Saya ingin mengakui bahwa secara pribadi saya belum merasakan arah angin itu, bahkan sebaliknya, saya merasa organisasi ini semacam hidup segan mati tak mau. Ada, ya. Mati, juga tidak.
Di level organisasi, kita juga tidak punya kiblat, semacam serampangan
saja. Kita seolah-olah tidak tahu apa yang akan dicapai organisasi ini selama
satu periode kepemimpinan setelah sebelumnya begitu berapi-api saat mengucap
sumpah setia di momen pelantikan, atau sebelumnya lagi, di momen pencalonan. Kita
seolah ingin bekerja setelah ditetapkan dalam lembar SK, tapi setelah SK
tercetak, entah apa yang membuat kita lupa bahwa nama-nama kita adalah kader
yang selalu bilang “tangan terkepal dan maju ke muka”. Entah apa artinya dan
belum ada penelitian soal itu. Sejauh ini kita terperosok ke dalam ekstasi
bernama PMII, seolah dengan hanya menjadi bagian dari nama itu kita telah
menjadi orang-orang penting yang dibutuhkan rakyat, seolah menjadi garda
terdepan dalam mengawal instabilitas, kertertindasan, dan lebih-lebih kebodohan
yang sudah terlanjur mengerak.
Keberadaan IKA-PMII di tingkat nasional, wilayah, cabang hingga komisariat juga, sekali lagi, ada dan tiadanya sama saja. Keberadaannya mungkin begitu terlihat di momen-momen Syawal, yaitu pada acara Halal Bihalal, pengangkatan ulang, Kongres atau sejenisnya. Di tingkat komisariat atau cabang, keberadaan lembaga alumni itu terasa pada perannya sebagai konsultan bagi mahasiswa yang masih menjaga marwah organisasi di tingkat grassroot. Sebagian yang tidak terima mungkin melihat pemikiran ini terlalu sempit bin dangkal. Tapi itu kenyataan.
Di tingkat komisariat misalnya, selain bertanya soal konsep
kaderisasi dan memberikan ceramah soal cara berorganisasi yang benar dan halal
serta memberikan solusi atas persoalan-persoalan dapur dan percintaan, peran
dan kerja pengurus IKA-PMII nyaris tidak terlihat. Bicara kegiatan rutin
misalnya, terlalu receh untuk diagungkan di sini. Bicara eksekusi rencana kerja
misalnya, terlalu omong kosong. Atau hal ini terjadi karena berkaca pada
kinerja IKA-PMII nasional-wilayah-cabang yang tidak serius sama sekali mengurus
organisasi. Cara kerja seperti ini telah menjadi patron bagi IKA-PMII di
tingkat komisariat, bahkan bahayanya oleh kader di tingkat bawah hingga
menengah, atau juga mungkin di tingkat atas.
IKA-PMII di tingkat cabang bermimpi membangun gedung
permanen. Kita semua memimpikan setiap lembaga di tingkat komisariat atau
bahkan rayon punya gedung sekretariat yang sama: permanen, bos! Untuk apa?
Untuk bermalas-malasan, main domino atau sekadar bernostalgia mengenang Mahbub
Djunaidi dan perjuangan heroik para pendahulu? Atau mungkin kita sengaja hendak
melembagakan kemalasan dan ketidakbergunaan? Mimpi kita terlalu jauh untuk
ukuran organisasi, atau mungkin orang-orangnya, yang mohon maaf, sampai sejauh
ini masih bingung mendefinisikan diri alih-alih melakukan kerja-kerja nyata
yang berdampak tadi. Kita sudah terperosok ke dalam ekstasi hutan simbol
daripada kerja-kerja nyata organisasi. Sekali lagi, nyata dan berdampak.
Kalaupun berdampak terlalu berat, minimal nyata, konsisten dan bernas sehingga
kita bisa mendefinisikan diri dengan lebih konkret. Ketika pendefinisian itu
sudah muncul, barulah mungkin pertanyaan “di mana posisi organisasi ini” akan
terjawab.
Upaya menakar harga PMII bukan sebuah upaya dekonstruksi, melainkan usaha kritis-reflektif membongkar aksioma dan kebenaran umum yang sudah terlalu lama kita kultuskan. Mari berupaya selagi bisa, jangan sekali-kali menitikkan air mata saat sudah tiada!

